Kepadatan penduduk, keramaian lalu lintas di jalan raya, gedung tinggi pencakar langit, kesibukan di setiap sudut jalan, dan aktivitas lainnya yang lalu Lalang setiap harinya. Itu semua tidak akan kalian jumpai saat berkunjung ke 4 Kampung tertua di Flores. Flores menyimpan segudang wisata budaya yang belum terlalu ter-explore.

Masing-masing tempat wisata budaya memiliki keunikannya tersendiri baik dari bentuk rumah, tradisi yang berlaku, kepercayaan yang diyakini, kebiasaan penduduk, hingga Bahasa keseharian yang biasa digunakan. Wisatawan akan terkagum ketika berkunjung ke 4 kampung tertua di Flores ini. Apalagi saat melihat secara langsung keunikan dari masing-masing kampung, ditambah keindahan alamnya yang mempesona.

1. Kampung Bena

Kampung Bena, sumber ig indoflashlight
Kampung Bena, sumber ig @indoflashlight

Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang memiliki keindahan alam yang begitu mempesona. Keunikan yang dimiliki kampung ini yaitu di tengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang disebut bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan ketika pesta adat.

Lokasi

Kampung Bena termasuk dalam wilayah Desa Tiwuriwu, Kecamatan Jereburu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sekitar 19 km selatan Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada. Kampung yang terletak di puncak bukit dengan view gunung Inerie. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung ini yang melindungi kampung mereka.

Suku yang Mendiami

Penduduk Bena termasuk ke dalam suku Bajawa. Mayoritas penduduk Kampung Bena adalah penganut agama Katolik. Umumnya penduduk Bena, kaum pria bermata pencaharian sebagai bertani, sedangkan kaum wanita bermata pencaharian sebagai peladang dan sebagai penenun. Pada awalnya hanya ada satu klan di kampung ini yaitu klan Bena. Perkawinan dengan suku lain melahirkan klan-klan baru yang sekarang ini membentuk keseluruhan penduduk kampung Bena. Hal ini bisa terjadi karena penduduk Bena menganut sistem kekerabatan matriarkat.

Arsitektur Bangunan

Kampung ini saat ini terdiri kurang lebih 40 rumah yang saling mengelilingi. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. Kampung ini sudah masuk dalam daerah tujuan wisata Kabupaten Ngada. Ternyata kampung ini menjadi langganan tetap wisatawan mancanegara khususnya dari Jerman dan Italia.

Kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologi. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar, Bangunan arsitektur Bena tidak hanya merupakan hunian semata, tetapi memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan.

2. Kampung Wae Rebo

Desa Wae Rebo, sumber ig carnaby.indonesia
Desa Wae Rebo, sumber ig @carnaby.indonesia

Tidak sulit untuk jatuh cinta pada kampung ini. Pengunjung dapat merasakan keunikan budaya, adat istiadat, keramahan warganya serta kearifan lokal yang masih terasa kental di kampung ini. Berada pada ketinggian 1.200 mdpl membuat kampung yang satu ini dikelilingi oleh awan sehingga keindahan alam inilah yang membuat Kampung Wae Rebo dijuluki sebagai Negeri diatas awan.

Lokasi

Kampung Wae Rebo adalah sebuah kampung tradisional yang terletak di dusun terpencil tepatnya di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai Provinsi, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berada pada ketinggian 1000 mdpl dikelilingi oleh perbukitan yang sangatlah asri. Wae Rebo dinyatakan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 menyisihkan 42 negara lain.

Suku yang Mendiami

Suku asli yang mendiami Kampung Wae Rebo menurut cerita masyarakatnya, di masa lalu ada seseorang bernama Empo Maro yang berasal dari Minangkabau. Empo Maro berlayar dari Pulau Sumatera hingga ke Flores. Awalnya tidak memiliki tempat tinggal tetap hingga akhirnya bermukim di Kampung Wae Rebo. Sehingga suku asli yang mendiami Kampung Wae Rebo berasal dari Suku Minangkabau.

Arsitektur Bangunan

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan sulit terjangkau, namun Kampung Wae Rebo sangat terkenal terutama oleh wisatawan asing Negara-negara di Eropa karena desain arsitekturnya yang memiliki daya tarik tinggi. Salah satu hal yang menarik dari Desa Wae Rebo adalah rumah adatnya yang berbentuk kerucut dan atapnya terbuat dari daun lontar. Jumlah rumah adat yang berbentuk kerucut sebanyak 7 rumah adat yang diberi nama Mbaru Niang.

3. Kampung Gurusina

Kampung Gurusina, sumber ig ditjenpdt
Kampung Gurusina, sumber ig @ditjenpdt

Desa Adat Gurusina atau lebih sering disebut Gurusina adalah salah satu desa atau kampung adat tertua. Ketenarannya mungkin tidak seperti Kampung Bena, padahal Kampung Gurusina memiliki keunikan dan keindahan yang tidak jauh berbeda dengan Kampung Bena. Selain itu, lokasinya tidak terlalu jauh dari Kampung Bena sehingga bisa dikunjungi setelah atau sebelum mengunjungi Kampung Bena.

Lokasi

Gurusina terletak 16 km dari Aimere dan 21 km dari Bajawa, desa ini lebih tepatnya terletak di lereng Gunung Inerie. Kampung Gurusinia awalnya berada pada puncak Gunung Ineria seperti Kampung Bena namun pada 1942 di pindahkan ke dataran yang lebih rendah. Sampai saat ini lokasi Gurusina masih berada pada tempat yang sama sejak tahun 1942.

Suku yang Mendiami

Kampung Gurusina dihuni oleh tiga suku besar, yakni Suku Kabi, Suku Agoazi, dan Suku Agokae. Kampung Gurusinia awalnya ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda pada 1934. Jauh sebelum ditemukan oleh orang Belanda, Gurusina sudah berdiri kurang lebih 50 abad yang lalu, bahkan Gurusina dianggap sebagai desa tertua di Flores. Mata pencaharian warga Gurusina umumnya adalah petani. Tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh warga Gurusina antara lain; kemiri, kakao, jambu mete dan cengkeh.

Arsitektur Bangunan

Ketiga suku tersebut tinggal di 33 rumah adat yang terbuat dari bambu dan alang-alang. Keunikan Gurusina terletak pada sisi tradisional dengan sejarah era megalitikumnya, terutama yang paling ikonik karena batu megalitikumnya berdiri tegak di tengah kampung. Dalam penataan pemukiman, warga Gurusina membangun rumahnya berjajar berhadap-hadapan, sehingga terlihat unik.

4. Kampung Mbaru Gendang

Kampung Mbaru Gendang, sumber ig Okezone Lifestyle
Kampung Mbaru Gendang, sumber Okezone Lifestyle

Mbaru Gendang merupakan pusat dan sentral pelestarian budaya. Segala proses pelaksanaan budaya dijalankan seperti proses caca mbolot (penyelesaian masalah), upacara penti (syukur panen) dijalankan, dan juga keberlangsungan segala upacara adat lainnya. Peran Mbaru Gendang demikian menjadi benteng sekaligus gerbang akhir dalam menjaga kelestarian budaya Manggarai.

Lokasi

Kampung Mbaru Gendang termasuk dalam wilayah Desa Ruteng Puu, Kecamatan Langke Ruteng, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah adat Mbaru Gendang terletak tidak jauh dari Kecamatan Ruteng Ibukota Kabupaten Manggarai. Jarak kampung ini dari pusat kota Ruteng sekitar 3 kilometer. Jarak tempuh ke kampung itu dari pusat kota Ruteng sekitar 45 menit dengan kendaraan roda empat.

Suku yang Mendiami

Suku yang mendiami Kampung Mbura Gendang adalah Suku asli Manggarai. Mbura Gendang tidak lepas dari sejarah dan budaya Manggarai sehingga berbagai festival dan upacara adat pelaksanaan dipusatkan di kampung ini.

Arsitektur Bangunan

Kampung ini sebagai ikon destinasi pariwisata budaya di Kabupaten Manggarai. Dua rumah Mbaru Gendang berdiri kokoh dengan atapnya dari ijuk. Di tengah kampung terdapat kuburan leluhur orang Manggarai sebagai penjaga kampung, juga berdiri kokoh pohon dadap di samping kuburan tua itu. Di kampung ini disimpan perlengkapan adat, seperti alat musik gong dan gendang. Di sana juga disimpan perlengkapan caci, tari tradisional khas Manggarai, yakni larik (cemeti), nggiling (perisai) dan lainnya.

Itu dia 4 kampung tertua di Flores dengan keunikan cara hidup dan tradisinya. Semoga bisa menambah wawasan kita terkait khazanah pariwisata di Indonesia. Simak terus artikel wisata Labuan Bajo Tour di halaman ini.

Chat WhatsApp whatsapp