Flores terkenal dengan destinasi yang cantik dan mempesona termasuk kampung adat. Tidak hanya kampung adat Wae Rebo yang terkenal, jika terus ke arah timur maka Anda akan menemui kampung adat tertua di Flores, yakni Kampung Bena.

Kampung adat Bena adalah salah satu destinasi cantik yang jadi idaman para turis yang datang ke Flores. Kampung ini terkenal karena masuk dalam kampung tertua di Nusa Tenggara Timur yang masih mempertahankan adat istiadat bahkan rumah adat mereka.

Terletak di kaki Gunung Inerie (2.245 mdpl), atau tepatnya berada di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, kampung yang memanjang dari utara ke selatan ini terkenal dengan rumah adat Bena dan tradisi nenek moyang mereka.

Sejarah Kampung Bena

Kampung Bena di Bajawa adalah salah satu dari desa tradisional Flores yang masih tersisa meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan. Desa ini lokasinya hanya 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores.

Kampung Bena, sumber ig nusaflorestour
Kampung Bena, sumber ig @nusaflorestour

Kota Bajawa yang terletak di cekungan seperti sebuah piring yang dipagari barisan pegunungan. Kota ini banyak dikunjungi wisatawan apalagi cuacanya cukup dingin, sejuk, dan berbukit-bukit, mirip seperti di Kaliurang, Yogyakarta.

Kehidupan di Kampung Bena dipertahankan bersama budaya zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Di sini ada 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.

Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung maka karena itu pula dinamai dengan nama Bena.

Umumnya warga suku-suku di Bena bermata pencaharian sebagai peladang dengan kebun-kebun menghijau tumbuh di sisi-sisi ngarai yang mengelilingi kampung. Untuk berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Nga’dha. Hampir seluruh warga Kampung Bena memeluk agama Katolik namun tetap menjalakan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya.

Pemandangan Gunung Inerie

Gunung Inerie, sumber ig @neng_ny

Kampung adat Bena berada berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 kilometer di selatan Bajawa. Kampung ini berada di puncak bukit dengan pemandangan Gunung Inerie. Karena berada di lereng gunung, kampung ini cukup dingin dan sering dihiasi dengan kabut.

Gunung yang pernah meletus pada 1882 dan 1970 tersebut bisa didaki saat musim kemarau, antara Juni hingga Agustus. Dari puncaknya Anda akan melihat pemandangan elok ke segala arah, termasuk Bajawa di sebelah barat laut dan birunya Laut Sawu di bagian selatan.

Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang percaya bahwa para dewa tinggal di gunung. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa di gunung ini yang melindungi kampung mereka. Kepercayaan itu masih dipegang oleh masyarakat setempat hingga sekarang.

Karena kepercayaan itu, penduduk asli ini pun masih mempertahankan adat istiadat mereka. Termasuk mempertahankan bangunan rumah yang mereka tinggali yang jumlahnya kurang lebih 40-an. Rumah-rumah di sini masih menggunakan bahan-bahan seperti jerami dan kayu. Diperkirakan tempat tinggal masyarakat setempat tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun.

Pemukiman ini berbentuk memanjang dari utara ke selatan seperti kapal. Pintu masuknya hanya dari utara sementara ujung lainnya berupa tepi tebing yang terjal. Di kampung ini ada beberapa suku yang tinggal yakni Suku Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Deru Lalulewa, Wahto, Dizi dan Dizi Azi. Mereka kebanyakan bekerja sebagai peladang dan kaum wanitanya suka menenun.

Pemukiman Kampung Bena, sumber ig jelajahnusantaraku
Pemukiman Kampung Bena, sumber ig @jelajahnusantaraku

Penghasil Kopi di Flores

Spot wisata ini memang mengagumkan, selain indah ternyata kampung ini terkenal dengan hasil kopi yang nikmat. Bahkan banyak wisatawan mengaku hasil kopi kampung ini adalah yang terbaik di Bajawa dan Flores.

Penduduk masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah kopi tapi rasanya membuat orang yang merasakannya ketagihan. Ciri khas kopinya sendiri memiliki tingkat kesamaannya yang tinggi.

Rute Menuju Kampung Bena

Jarak pemukiman ini kurang lebih 19 km dari pusat kota Bajawa, ibukota kabupaten Ngada. Untuk mencapainya, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan darat. Walau jalurnya sudah relatif baik, namun Anda tetap dituntut memiliki keahlian mengemudi yang mumpuni guna menaklukkan jalan berkelok dan naik turun.

Jika Anda berangkat dari Kupang, maka bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa travel ke kota Bajawa. Sampai di kota Bajawa, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi menggunakan ojek dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

Sementara, jika Anda baru saja berwisata ke Danau Kelimutu di kota Ende, maka Anda bisa menggunakan jasa travel atau bis jurusan Ende-Bajawa, kemudian turun di Mataloko, yang disambung dengan ojek menuju lokasi ini.

Rumah di Kampung Bena, sumber ig nusaflorestour
Rumah di Kampung Bena, sumber ig @nusaflorestour

Kampung ini dibuka untuk para pelancong mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WITA. Ketika masuk, Anda cukup mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Donasi sebaiknya menggunakan uang kertas karena uang koin tidak digunakan oleh masyarakat Kabupaten Ngada. 

Karena lokasinya yang relatif terpencil, Anda tidak bisa menemukan penginapan di sekitar perkampungan Bena. Para wisatawan biasanya memilih menginap di Bajawa karena jarak tempuh ke kampung Bena tidak jauh. Jika menginap di Bajawa, pastikan Anda membawa pakaian hangat karena suhu di kota Bajawa cukup dingin terutama di malam hari.

Demikianlah ulasan mengenai Kampung Bena yang merupakan kampung adat tertua di Flores. Bagi Anda yang berkunjung ke Flores, jangan lupa mengunjungi kampung indah dan bersejarah yang dekat dengan Labuan Bajo ini. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.