Kampung Gurusina memang terkenal akan keindahan alam yang begitu mempesona. Sehingga menarik rasa penasaran di hati Wisatawan untuk berkunjung dan melihat secara langsung. Wisatawan yang berdatangan berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga Wisatawan mancanegara.

Keunikan dari adat dan budaya yang masih bertahan hingga saat ini membuat Kampung Gurusina menjadi tujuan wisata budaya yang patut di kunjungi saat berwisata ke Labuan Bajo. Dibalik keindahan Kampung Gurusina sebagai destinasi wisata budaya ada salah satu tradisi unik yang masih bertahan, apa tradisinya tersebut? Pada artikel ini akan dibahas.

Kampung Gurusina

Kampung Adat Gurusina atau lebih sering disebut Gurusina adalah salah satu kampung adat tertua. Ketenarannya mungkin tidak seperti Kampung Bena, padahal Kampung ini memiliki keunikan dan keindahan yang tidak jauh berbeda dengan Kampung Bena. Selain itu, lokasinya tidak terlalu jauh dari Kampung Bena bahkan berada pada daerah yang sama-sama berada di kaki Gunung Inerie. Sehingga Anda bisa mengunjungi Kampung ini setelah atau sebelum mengunjungi Kampung Bena.

Tetapi sayangya, bukan hanya dari ketenaran yang kurang bisa menyamai Kampung Bena, Kampung yang disebut sebagai Kampung Megalitikum ini mengalami kebakaran pada 14 Agustus 2018. Walaupun pembangunan rumah sudah dilakukan, tetapi berbagai peralatan yang menjadi ciri khas dari kampung ini belum sepenuhnya bisa diganti. Walau demikian, keindahan alam kampung ini masih bisa dirasakan.

Lokasi Kampung Gurusina

Kampung Gurusina, sumber ig klntravel
Kampung Gurusina, sumber ig @klntravel

Kampung Gurusina secara administratif termasuk dalam wilayah Kampung Watumanu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gurusina terletak 16 km dari Aimere dan 21 km dari Bajawa, kampung ini lebih tepatnya terletak di lereng Gunung Inerie. Jarak dari Kampung Bena sekitar 4 km tetapi karena jalan utama menuju ke dua kampung ini memutar sehingga untuk menempuh perjalanan diperlukan waktu sekitar 1 jam 30 menit.

Kampung Megalitikum ini awalnya berada pada di dataran tinggi Gunung Ineria seperti Kampung Bena namun pada 1942 dipindahkan ke dataran yang lebih rendah. Sampai saat ini lokasi Gurusina masih berada pada tempat yang sama sejak tahun 1942. Walaupun demikian tetapi keindahan alam Kampung ini tidak jauh berbeda dengan Kampung Bena.

Suku Asli Kampung Gurusina

Kampung tertua di Flores ini dihuni oleh tiga suku besar yakni Suku Kabi, Suku Agoazi, dan Suku Agokae. Kampung ini awalnya ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda pada 1934. Jauh sebelum ditemukan oleh orang Belanda, Gurusina sudah berdiri kurang lebih 50 abad yang lalu, bahkan kampung ini dianggap sebagai kampung tertua di Flores. Mata pencaharian warga kampung ini umumnya adalah petani. Tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh warga di sekitar antara lain seperti kemiri, kakao, jambu mete dan cengkeh.

Arsitektur Bangunan Rumah

Ketiga suku tersebut tinggal di 33 rumah adat yang terbuat dari bambu dan alang-alang. Keunikan kampung ini terletak pada sisi tradisional dengan sejarah era megalitikumnya, terutama yang paling ikonik karena batu megalitikumnya berdiri tegak di tengah kampung. Dalam penataan pemukiman, warga sekitar membangun rumahnya berjajar berhadap-hadapan, sehingga terlihat unik.

Posisi Rumah berdasarkan Ketentuan Adat

Permukiman di kampung ini terbagi dalam beberapa area sesuai dengan ketentuan adat. Di dalam kampung, terdapat bangunan adat, rumah adat, pohon pelindung, dan area perkebunan. Untuk rumah yang ditinggali, penduduk Kampung Adat Gurusina menamainya sao. Kurang lebih ada 30 bangunan sao dengan bentuk dan ukuran yang hampir serupa.

Rumah Adat Gurusina, sumber ig kupangnet
Rumah Adat Gurusina, sumber ig @kupangnet

Meskipun demikian, ada beberapa sao yang berukuran cukup besar. Biasanya sao tersebut terbuat dari potongan kayu dan bambu dengan atap dari alang-alang. Sebuah tanduk kerbau terdapat di bagian depan rumah. Itu menjadi penanda kejayaan dan kekayaan penghuni rumah tersebut. Selain ukuran dan bentuknya yang unik, rumah adat di kampung ini punya ukiran kayu di pintu masuk. Ukiran itu bertuliskan nama rumah. Yang paling unik, lantai rumah tanpa semen, hanya menggunakan pelepah bambu. Di setiap papan penyangga lantai ada ukiran berbentuk bunga dan binatang.

Di bagian tengah Kampung Adat ini, terdapat tiga rumah kecil. Rumah-rumah tersebut terbuat dari bahan yang sama persis dengan bahan bangunan rumah adat. Fungsi dari ketiga rumah itu ialah sebagai tempat penyimpanan harta benda serta kekayaan suku Gurusina. Selain punya menyimpan harta kekayaan, suku Gurusina juga punya tiga buah lopo. Tempat itu dipercaya warga Kampung adat ini sebagai tempat peristirahatan para leluhur mereka.

Akomodasi Wisata

Saat berkunjung ke kampung unik ini, Anda bisa melihat aktivitas dan situs adat yang langgeng terjaga selama ratusan tahun. Untuk mencapai kampung adat ini, Anda memang harus menempuh perjalanan yang cukup berliku. Hal itu mengingat lokasinya yang di pedalaman. Anda harus menempuh jarak sejauh 26 kilometer dari pusat Kota Bajawa menggunakan kendaraan bermotor. Tidak perlu risau akan bosan selama perjalanan.

Di perjalanan Anda akan melihat pemandangan indah berupa pepohonan dan Gunung Inierie di kejauhan. Untuk moda transportasi, Anda bisa memilih angkutan umum dari Kota Bajawa ke Jerebuu. Namun, karena jadwalnya tak pasti, amat disarankan untuk menggunakan jasa sewa labunbajotour.com untuk mengunjungi Kampung Adat Gurusina. Selain itu, jika Anda berencana menginap, Kami akan membantu menemukan tempat menginap. Pasalnya, belum ada sarana akomodasi di sekitar lokasi.

Yang terdekat, Anda bisa menginap di rumah penduduk di Kampung Tololel. Kampung itu memang berbeda dengan Kampung Megalitikum ini. Namun, Anda bisa menginap di sana dengan kamar-kamar yang sudah berkelambu lengkap dengan sarapan makanan khas setempat. Bahkan Anda bisa melihat dan ikut kegiatan memasak bersama warga setempat yang masih menggunakan tungku-tungku batu.