Select Page

Nusa Tenggara Timur merupakan surga bagi para pecinta alam, keanekargaman hayati dan kedamaian dengan suguhan surga dunia yang membentang dari udara, darat hingga dasar lautnya yang merupakan impian semua orang hingga mampu menarik perhatian turis mancanegara karena pesona alam dan sejuta keanekaragaman hayati yang ditawarkan salah satu propinsi paling eksotis di Indonesia Timur ini.

Desa Bena di Bajawa, Labuan Bajo merupakan salah satu desa atau kampung dimana penduduknya masih kental melestarikan budaya mereka mulai dari bentuk rumah, upacara-upacara hingga mata pencaharian sehari-hari. Desa Bena ini juga terkenal karena statusnya sebagai pedesaan peninggalan jaman megalitikum tepatnya di Desa Tiwuriwu, Aimere tidak jauh dari Bajawa di Kabupaten Ngada.

Rute Menuju Lokasi

Bena Village, sumber ig _ovide_

Bena Village, sumber ig @_ovide_

Untuk sampai di danau vulkanik terbesar ini, pengunjung akan menemui sejumlah jalur terjal. Lokasi detail wisata ini terletak di Kabupaten Manggarai tepatnya di kawasan hutan lindung Mbeliling di Labuan Bajo. Apabila anda berangkat menggunakan pesawat, dapat turun di bandara terdekat atau disarankan turun di Denpasar (sekaligus mampir ke Pantai Sanur dan Kuta).

Dari Bali baru kemudian naik kapal Feri jarak jauh selama kurang lebih 4 sampai 5 jam ke Nusa Tenggara Timur. Sesampai di sana, naik sepeda motor atau mobil menuju Kabupaten Ngada lalu 19 km menuju ke Bajawa dan terus ke Desa Bena.

Harga Tiket Masuk

Tidak ada pungutan biaya untuk memasuki desa ini, namun pengunjung disarankan untuk membawa buku dan barang-barang bermanfaat lainnya untuk berbagi dengan warga sekitar.

Fasilitas dan Obyek Wisata

1. Biji kopi khas Bena

Terletak di wilayah perbukitan dengan suhu udara rendah namun sejuk, desa Bena, Bajawa, Labuan Bajo termasuk menjadi salah satu produsen biji kopi yang guris dengan jenis Arabica khas Indonesia yang sedikit kasar.

2. Tenun tradisional

Kain Tenun Khas Suku Bena, sumber ig irvandododol

Kain Tenun Khas Suku Bena, sumber ig @irvandododol

Satu lagi alternatif yang dapat dijadikan sebagai cinderamata yaitu kain tenun yang dibuat secara manual dan tradisional oleh kaum wanita di desa Bena. Hasil karya ini dapat berupa selendang, syal hingga rok yang tentunya tidak kalah dengan fashion masa kini serta dapat memperkenalkan karya asli khas Indonesia yang berkelas.

3. Ornament bersejarah

Di tengah-tengah desa Bena yang dihuni sekitar 40 rumah dan dikelilingi oleh deretan bukit dan tebing terjal ini terdapat dua ornament bersejarah peninggalan jaman megalitikum yaitu ngadhu dan bhaga yang menyerupai rumah gubug kecil dengan tiang tegak di salah satu ornament untuk keperluan gantungan hewan apabila dilakukan perayaan-perayaan khusus.

4. Kampung alami

Seluruh warga di desa Bena awalnya berasal dari suku Bajawa yang dengan sistem matrairkat akhirnya terjadi perkawinan antar suku sehingga saat ini penghuni di desa Bena bervariasi dengan mayoritas Bergama katholik.

Hingga saat ini, desa Bena termasuk desa yang tidak terjamah oleh teknologi, bukannya tidak pernah karena banyak turis mancanegara yang betah menetap di sana, namun karena kemauan warga sendiri yang ingin meneruskan dan melestarikan budaya nenek moyang dengan berladang dan bertenun serta menjadi nominasi sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO sejak 1995.

5. Gunung Inerie

Gunung Inerie, sumber ig riska_rahmawati

Gunung Inerie, sumber ig @riska_rahmawati

Menurut penduduk asli, gunung ini dipercayai sebagai tempat tinggal dewa bernama Yeta yang dikramatkan sebagai dewa penjaga desa dari bencana dan musibah.

Berlibur di Desa Bena, Bajawa, Labuan Bajo merupakan pengalaman mengesankan dimana pengunjung akan disuguhkan kedamaian dan kecintaan warga desa pada budaya mereka dengan tidak mengikuti perkembangan teknologi. Demikian ulasan mengenai Desa Bena Labuan Bajo. Simak juga artikel lainnya mengenai Pulau Karang Atol Mangiatan Labuan Bajo. Selamat berwisata!