Keindahan Indonesia tidak lepas dari alamnya yang terbentang, mulai dari pantai, gunung, hingga suasana di persawahan seperti halnya Sawah Lingko yang terletak di Desa Cancar, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, membentang dengan perpetakan sawahnya nan mempesona.

Berbeda dari persawahaan di kawasan lainnya, Sawah Lingko memiliki daya tarik bentuk sawahnya yang membentuk jaring laba-laba alias odok (kebun dengan pusat lingkaran). Pola tersebut berkenaan dengan penggunaan lahan milik masing-masing warga adat setempat.

Mengenal Lebih Dekat Sawah Lingko

Masyarakat Manggarai mengenal pertanian sejak sistem kehidupan berburu yang nomaden, hingga berubah agraris denga cara menetap. Sejak saat itu, keberadaan lahan pertanian berperan penting bagi masyarakat Manggarai. Alhasil, pembagian lahan pertanian harus berdasarkan adat istiadat.

Lingko merupakan sistem pembagian sawah yang bermula dari titik tengah yang disebut dengan lodok. Dari titik tengah itulah ditarik garis panjang menuju bidang terluar yang disebut dengan cicing. Polanya kecil di bagian dalam dan besar di bagian luar atau mirip jaring laba-laba.

Sawah Lingko, sumber ig beautifuldestinationsindonesia
Sawah Lingko, sumber ig @beautifuldestinationsindonesia

Semakin jauh dari titik tengah, semakin luas pula tanah tersebut. Tak seperti sawah pada umumnya, lingko memiliki pola seperti jaring laba-laba. Keunikan inilah yang menjadikannya sebagai destinasi wisata. Siapapun akan dibuat terkagum-kagum dengan pemandangan yang menakjubkan.

Selain itu, Anda pun akan disambut dengan udara yang sejuk ala persawahan di Desa Cancar. Umumnya, wisatawan akan mengunjungi wisata sawah unik ini setelah turun dari Desa Wisata Wae Rebo.

Lokasi Sawah Lingko

Lokasinya di Desa Cancar, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, atau sekitar 15 kilometer dari Kota Ruteng. Untuk menuju Desa Cancar dapat menggunakan angkutan kota dari Ruteng, kemudian turun di Pasar Cancar. Dari Pasar Cancar berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer.

Meskipun bukan destinasi wisata yang dikelola pemerintah maupun swasta, tetapi Desa Cancar menerapkan sistem registrasi dengan mengisi buku tamu di sebuah rumah. Dari rumah itu, tinggal berjalan kaki menuju puncak bukit untuk melihat lingko dari ketinggian.

Filosofi Lodok dan Jari Tangan

Sistem pembagian lahan sawah oleh leluhur Manggarai dilakukan secara berpusat. Dimana titik nolnya berada di tengah-tengah lahan ulayat yang akan dibagi-bagi. Polanya dengan menarik garis panjang dari titik tengah yang dalam bahasa Manggarai disebut lodok hingga ke bidang terluar atau cicing.

Sawah Lingko di Desa Cancar, sumber ig tukang_jalan
Sawah Lingko di Desa Cancar, sumber ig @tukang_jalan

Filosofinya mengikuti bentuk sarang laba-laba, dimana lodok, bagian yang kecil berada di bagian dalam (tengah) dan keluarnya makin lama semakin melebar. Kewenangan untuk membagi tanah komunal ada pada Tu’a Teno (ketua adat). 

Awal pembagiannya dilakukan melalui ritual adat Tente atau menancapkan kayu teno di titik episentrum lodok. Saat darah kambing ditumpahkan di atas kayu teno menandakan pembagian lahan tersebut sudah sah secara adat. 

Sawah bentuk lodok, jelasnya hanya satu-satunya di dunia, dan suatu keunikan budaya Manggarai yang perlu terus dijaga. Tu’a Teno atau ketua adat dan Tu’a Golo atau tua kampung umumnya akan mendapatkan bagian luas sawah yang lebih besar. 

Konon, pembagian tanah ulayat mengikuti rumus moso (jari tangan) disesuaikan dengan jumlah penerima tanah warisan dan keturunannya. Sesuai dengan rumus moso sebutnya, pembagian tanah diprioritaskan bagi petinggi kampung beserta keluarganya, yang lalu diikuti warga biasa dari warga suku, baru setelahnya dari warga luar suku. 

Secara warga adat luar pun bisa memiliki lahan sawah dengan memintanya kepada Tu’a Golo atau tetua kampung. Caranya adalah dengan membawa seekor ayam jantan dan arak atau Kapu Manuk Lele Tuak dan disahkan melalui sidang dewan kampung yang dipimpin Tu’a Golo yang disahkan oleh Tu’a Teno.

Berwisata di Sawah Lingko Labuan Bajo, sumber ig marceljerrywinata
Berwisata di Sawah Lingko Labuan Bajo, sumber ig @marceljerrywinata

Selalu Ramai Dikunjungi 

Sistem pertanian di Manggarai mulai dikembangkan sejak Raja Aleksander Baruk memimpin bumi Nusa Lale Manggarai di tahun 1931-1945. Raja saat itu amat mendorong pengembangan pertanian, termasuk dengan cara mengirim banyak rakyatnya untuk belajar menanam padi dan kopi hingga ke Singaraja Bali.

Sawah perdana di Manggarai terdapat di Lingko Loro dekat Rentung dan Nugi dekat Cancar yang sejak awal pembagiannya pun tetap mengikuti pola lodok. Tempat ini sering disebut sebagai areal persawahan Sonto atau sawah contoh yang luasnya sekitar 100 hektar. 

Terdapat sebelas hamparan sawah lodok yakni Lingko Molo, Lingko Lindang, Lingko Pong Ndung, Lingko Temek, Lingko Jenggok, Lingko Lumpung, Lingko Purang Pane, Lingko Sepe, Lingko Wae Toso, Lingko Ngaung Meler serta Lingko Lumpung II yang ada di delapan kampung di Desa Meler, Cancar Kecamatan Ruteng yang semuanya bisa ditatap dari Puncak Weol.

Untuk mencapai puncak bukit, pengunjung harus menapaki 250 anak tangga yang dibuat daari tumpukan tanah yang menggunakan bambu sebagai penahan mengikuti jalan berbentuk zig-zag dengan memegang pagar bambu sebagai pegangan di pinggirnya.

Jalan tersebut dibuat agar wisatawan tidak terlalu sulit mendaki puncak bukit dengan kemiringan sekitar 30 derajat sebab bila jalan tidak dibuat berkelok maka wisatawan akan kesulitan mencapai puncak bukit sejauh sekitar 400 meter.

Jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi sawah jaring laba-laba setiap hari bisa mencapai 50 sampai 100 orang dan menigkat di saat liburan sekolah dan hari raya. Wisatawan yang datang kebanyakan berasal dari luar negeri. Setelah mengunjungi destinasi wisata di Labuan Bajo seperti pulau Komodo dan Rinca, wisatawan datang ke Cancar dan berkunjung ke kampung adat Wae Rebo di Manggarai. 

Demikian ulasan mengenai pesona indah Sawah Lingko yang berbentuk bak jaring laba-laba raksasa disertai suasana persawahan yang sejuk. Tentu, semua itu menjadi daya tarik bagi para wisatawan terutama yang ingin menikmati panorama alam yang indah dan sejuk di Nusa Tenggara Timur.